Heyis Blogs

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.

Laskar Pelangi

Posted by luka1924 on May 28, 2008

Laskar Pelangi

By : Andrea Hirata

*- -,4- -
PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku,
memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada
setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di
depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu
miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu
berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah
seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah
dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti
ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak
jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali
menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir
sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik
keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang
dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi
permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami.
“Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,”
katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan
karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu
ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung
yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi
seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak
banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah
menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai
untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak
berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara
gampang bagi keluarga kami.
“Kasihan ayahku ….”
Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
“Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan
mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”
Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku
mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran
mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian
laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orangtua ini
sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai
paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini
mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa
karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru,
tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali
seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari
pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak
mengenal anak beranak itu.
Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan
ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapasiapa.
Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah
komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga
sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua
mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak
menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela
semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter
yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran
Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di
seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin
melihat harapan hampa itu. Maka tidk seperti suasana di SD lain yang penuh
kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD
Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak
Harfan.
Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas
Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah
hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di
Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab
sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya,
dan kami, sembilan anak-anak kecil ini—yang terperangkap di tengah—cemas kalaukalau
kami tak jadi sekolah.
Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini
Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah
mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada
kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk
memnuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh
orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.
Para orangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda
bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja.
Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada
orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah
tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat
kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan
satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat itu sudah pukkul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima
tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun
pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu
ini.
“Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia
sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah
diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid
tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku
melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap
ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu,
kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas
punggung yang semuanya baru.
Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu.
Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk
membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak
Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan
pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan
kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak
sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
“Harun!”
Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalan
terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang
putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika
berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah
baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka
sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang
mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri
kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya.
Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
“Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak
punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di
sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”
Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.
Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
“Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak
merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk
lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya
yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d bloggers like this: